Label

Minggu, 23 Desember 2012

Landasan Psikologi dalam Pendidikan



BAB I
PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Berbicara mengenai situasi pengajaran di Indonesia, kita tidak dapat menutupi kenyataan di mana sekolah-sekolah masih mengutamakan penguasaan konsep mata pelajaran. Akibatnya, peranan dan minat guru-guru ataupun murid-murid masih banyak dibatasi oleh pengawasan dari pihak pemerintah. Memang ada kemungkinan, bahwa keberhasilan pendidikan kita adalah tidak lepas hubungannya dengan keterampilan guru-guru dalam mengelola belajar mengajar. Pendidikan kita sekarang belum banyak memperhatikan minat dan kebutuhan anak didik. Pendidikan kita masih banyak berkutat dengan masalah-masalah kompetensi lembanga pendidikan serta pemenuhan kebutuhan dunia kerja akan tenaga kerja.
Dengan kenyataan di atas, maka sudah tiba masanya sekarang dimana pendidikan hendaknya lebih melayani kebutuhan dan hakikat psikologis anak didik. Pendidikan seharusnya mempunyai kreasi-kreasi baru di sepnjang waktu dengan berorientasi kepada sifat dan hakikat anak didik. Selama anak sekolah hanya menyenangi puisi-puisi daripada menulis naskah-naskah kreatif dan selama anak-anak sekolah dilatih perhitungan matematis yang kurang berguna daripada mengajarkan manfaat perhitungan tersebut untuk kegunaan yang nyata, maka selama itu pula pendidikan di sekolah belum berhasil.
Apabila kita melihat dunia pendidikan dalam prakteknya, masih banyak dijumpai guru-guru yang beranggapan, bahwa pekerjaan mereka tidak lebih dari menumpahkan air ke dalam gelas kosong. Guru yang benar-benar dapat berhasil adalah guru yang menyadari bahwa dia mengajarkan sesuatu kepada manusia-manusia yang berharga dan berkembang. Dengan bekal kesadaran semacam ini di kalangan para pendidik, hal itu sudah memberikan harapan agar guru-guru menghormati pekerjaan mereka sebagai guru. Pekerjaan guru adalah lebih bersifat psikologis daripada pekerjan seorang dokter, insinyur atau ahli hukum. Untuk itu, guru hendaknya tidak jemu dengan pekerjaannya, meskipun dia tidak dapat menentukan atau meramalkan secara tegas tantang bentuk manusia yang bagaimanakan yang akan dihasilkannya kelak di kemudian hari.
Sekolah-sekolah yang menekankan disiplin ketat terhadap murid-murid di kelas serta menjadikan displin sebagai alat vital untuk menyampikan bahan pelajaran kepada murid-murid, maka sekolah-sekolah semacam itu belum memberi tempat yang terhormat terhadapa psikologi dalam pendidikan. Disiplin pada hakikatnya hanya salah satu metode dalam pengajaran guna menumbuhkan kepatuhan pada anak didik.
Kepatuhan memang perlu, tetapi kepatuhan itu sendiri hendaknya tidak sepihak. Kepatuhan sebaiknya terjadi secara timbal balik di antara semua pihak yang terlibat di dalam pendidikan, baik itu anak didik, pendidik, kurikulum, maupun fasilitas pendidikan. Di sinilah letak pentingnya psikologi dalam pendidikan. Semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan perlu mengarahkan perhatian kepada sifat dan hakikat anak didik, sehingga pelayanan pengajaran mebuahkan pribadi pribadi yang berkembang secara efektif.
Berdasarkan uraian di atas, pengetahuan psikologis tentang anak didik menjadi hal yang sangat penting dalam pendidikan. Karena itu, pengetahuan tentang psikologi pendidikan seharusnya menjadi kebutuhan bagi para pendidik, bahkan bagi setiap orang yang menyadari peranannya sebagai pendidik. Sehubungan dengan pentingnya mengetahui tentang landasan psikologis dalam pendidikan maka pembahasan yang kami lakukan sangat perlu untuk dibincangkan. Pendidikan selalu melibatkan kejiwaan manusia, sehingga landasan psikologi merupakan salah satu landasan yang penting dalam bidang pendidikan. Sementara itu keberhasilan pendidik dalam melaksanakan berbagai peranannya akan dipengaruhi oleh pemahamannya tentang seluk beluk landasan pendidikan termasuk landasan psikologis dalam pendidikan.
Perbedaan individual terjadi karena adanya perbedaan berbagai aspek kejiwaan antar peserta didik, bukan hanya yang berkaitan dengan kecerdasan dan bakat tetapi juga perbedaan pengalaman dan tingkat perkembangan, perbedaan aspirasi dan citacita bahkan perbedaan kepribadian secara keseluruhan. Oleh sebab itu, pendidik perlu memahami perkembangan individu peserta didiknya baik itu prinsip perkembangannya maupun arah perkembangannya.
1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
  1. Bagaimanakah pengertian landasan psikologis dalam pendidikan?
  2. Bagaimanakah implikasi landasan psikologi dalam pendidikan?
  3. Apakah Peran Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar-Mengajar ?

1.3  Tujuan
Tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah agar pendidik dapat memahami perkembangan peserta didiknya berdasarkan tahapan usia perkembangannya sehingga diharapkan tidak ada kekeliruan dalam mengenali dan menyikapi peserta didiknya. Dengan demikian proses pendidikan pun akan berjalan dengan lancar.

BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Landasan Psikologis dalam Pendidikan
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata psyche berarti ”jiwa”, dan logos yang berarti ilmu. Jadi secara harfiah psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Namun apabila mengacu pada salah satu syarat ilmu yaitu adanya objek yang dipelajari maka tidaklah tepat mengartikan psikologi sebagai ilmu jiwa karena jiwa bersifat abstrak.  Oleh karena itu yang sangat mungkin dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yaitu dalam wujud perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Dengan dasar ini maka psikologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya.
Menurut Whiterington (1982:10) bahwa pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Itu artinya bahwa tindakan-tindakan belajar yang berlangsung secara terus menerus akan menghasilkan pertumbuhan pengetahuan dan perilaku sesuai dengan tingkatan pembelajaran yang dilalui oleh individu sendiri melalui proses belajar-mengajar. Karena itu untuk mencapai hasil yang diharapkan, metode dan pendekatan yang benar dalam proses pendidikan sangat diperlukan.
Kalau kita berbicara tentang individu yaitu manusia, maka kita akan bertemu dengan beberapa keunikan perilaku/jiwa (psyche), dan faktor ini akan berhubungan erat bahkan menentukan dalam keberhasilan proses belajar. Didasari pada begitu eratnya antara tugas psikologi (jiwa) dan ilmu pendidikan, kemudian lahirlah suatu subdisiplin yaitu psikologi pendidikan (educational psychology).
Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Sedangkan pendidikan adalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Dari dua definisi ini maka jelas fokus dari psikologi pendidikan adalah proses belajar mengajar.
Pemahaman peserta didik yang berkaitan dengan aspek kejiwaan merupakan salah satu kunci keberhasilan pendidikan. Oleh karena itu, hasil kajian dan penemuan psiologis sangat diperlukan penerapannya dalam bidang pendidikan. Misalnya pengetahuan tentang aspek-aspek pribadi, urutan, dan ciriciri pertumbuhan setiap aspek, dan konsep tentang caracara paling tepat untuk mengembangkannya. Untuk itu psikologi menyediakan sejumlah informasi tentang kehidupan pribadi manusia pada umumnya serta berkaitan dengan aspek pribadi.
Individu memiliki bakat, kemampuan, minat, kekuatan serta tempo, dan irama perkembangan yang berbeda satu dengan yang lain. Sebagai implikasinya pendidik tidak mungkin memperlakukan sama kepada setiap peserta didik, sekalipun mereka mungkin memiliki beberapa persamaan. Penyusunan kurikulum perlu berhatihati dalam menentukan jenjang pengalaman belajar yang akan dijadikan garisgaris besar program pengajaran serta tingkat keterincian bahan belajar yang digariskan.
Landasan psikologis pendidikan adalah suatu landasan dalam proses pendidikan yang membahas berbagai informasi tentang kehidupan manusia pada umumnya serta gejalagejala yang berkaitan dengan aspek pribadi manusia pada setiap tahapan usia perkembangan tertentu untuk mengenali dan menyikapi manusia sesuai dengan tahapan usia perkembangannya yang bertujuan untuk memudahkan proses pendidikan. Kajian psikologi yang erat hubungannya dengan pendidikan adalah yang berkaitan dengan kecerdasan, berpikit, dan belajar (Tirtarahardja, 2005: 106).

2.1.1  Perkembangan Individu
Perkembangan adalah proses terjadinya perubahan pada manusia baik secaara fisik maupun secara mental sejak berada di dalam kandungan sampai manusia tersebut meninggal. Proses perkembangan pada manusia terjadi
dikarenakan manusia mengalami kematangan dan proses belajar dari waktu ke waktu.
Kematangan adalah perubahan yang terjadi pada individu dikarenakan adanya pertumbuhan fisik dan biologis, misalnya seorang anak yang beranjak menjadi dewasa akan mengalami perubahan pada fisik dan mentalnya.
Sedangkan belajar adalah sebuah proses yang berkesinambungan dari sebuah pengalaman yang akan membuat suatu individu berubah dari tidak tahu menjadi tahu (kognitif), dari tidak mau menjadi mau (afektif) dan dari tidak bias enjadi bisa (psikomotorik), misalnya seseorang anak yang belajar mengendarai sepeda akan terlebih dahulu diberi pengarahan oleh orang tuanya lalu anak tersebut mencoba untuk mengendarai sepeda hingga menjadi bisa.
Proses kematangan dan belajar akan sangat menentukan kesiapan belajar pada seseorang, misalnya seseorang yang proses kematangan dan belajarnya baik akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik dengan seseorang yang proses kematangan dan belajarnya buruk.
Manusia dalam perkembangannya mengalami perubahan dalam berbagai aspek yang ada pada manusia dan aspek-aspek tersebut saling berhubungan dan berkaitan. Aspekaspek dalam perkembanga tersebut diantaranya adalah aspek fisik, mental, emosional, dan sosial.
Semua manusia pasti akan mengalami perkembangan dengan tingkat perkembangan yang berbeda, ada yang berkembang dengan cepat dan ada pula yang berkembang dengan lambat. Namun demikian dalam proses perkembangan terdapat nilainilai universal yang dimiliki oleh semua orang yaitu prinsip perkembangan. Prinsip perkembangan tersebut diantaranya adalah sebagai berikut: Perkembangan terjadi secara terus menerus hingga manusia meninggal dunia Kecepatan perkembangan setiap individu berbedabeda. Semua aspek perkembangan saling berkaitan dan berhubungan satu sama lainnya Arah perkembangan individu dapat diprediksi Perkembangan terjadi secara bertahap dan tiap tahapan mempunyai karakteristik tertentu.

2.2. Pengaruh Heriditas dan Lingkungan Terhadap Perkembangan Individu
Nativisme
Teori nativisme adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu dilahirkan kedunia dengan membawa faktorfaktor turunan dari orang tuanya dan faktor tersebut yang menjadi faktor penentu perkembangan individu. Tokoh teori ini adalah Schoupenhauer dan Arnold Gessel Implikasi teori nativisme terhadap pendidikan yaitu kurang memberikan kemungkinan bagi pendidik untuk mengubah kepribadian peserta didik.
Empirisme
Teori empirisme adalah teori yang berasumsi bahwa setiap individu yang terlahir ke dunia adalah dalam keadaan bersih sedangkan faktor penentu perkembangan individu tersebut adalah lingkungan dan pengalaman Tokoh teori ini adalah John Lock dan J.B.Watson Implikasinya teori empirisme terhadap pendidikan yaitu dapat memberikan kemungkinan sepenuhnya bagi pendidik untuk dapat membentuk kepribadian peserta didik.
 Konvergensi
Teori konvergensi adalah teori yang berasumsi bahwa perkembangan individu ditentukan oleh faktor keturunan dan faktor lingkungan serta pengalaman, atau dengan kata lain teori ini adalah gabungan dari teori empirisme dan teori konvergensi. Tokoh teori ini adalah Wiliam Stern dan Robert J Havighurst Implikasinya teori konvergensi terhadap pendidikan yaitu dapat memberikan kemungkinan kepada pendidik untuk membentuk kepribadian individu sesuai yang diharapkan akan tetapi tetap memperhatikan factor-faktor heriditas yang ada pada individu.
Asumsi bahwa anak adalah orang dewasa dalam skala kecil (anak adalah orang dewasa mini) telah ditinggalkan orang sejak lama, sebagaimana kita maklumi bahwa masa anak-anak adalah suatu tahap yang berbeda dengan orang dewasa. Anak menjadi dewasa melalui suatu proses pertumbuhan bertahap mengenai keadaan fisik, sosial, emosional, moral dan mentalnya. Seraya mereka berkembang, mereka mempunyai cara-cara memahami bereaksi, dan mempresepsi yang sesuai dengan usianya. Inilah yang oleh ahli psikologi disebut tahap perkembangan.
Robert Havighurst (1953) membagi perkembangan individu menjadi empat tahap, yaitu masa bayi dan kanak kanak kecil (0-6tahun), masa kanak-kanak (6-12 tahun), masa remaja atau adoselen (12-18 tahun), dan masa dewasa (18 …tahun). Selain itu, Havighurst mendeskripsikan  tugastugas perkembangan (development task) yang harus diselesaikan pada setiap tahap perkembangan sebagai berikut:
1.      Tugas Perkembangan Masa Bayi dan Kanak-kanak kecil (0-6 tahun): Belajar berjalan. Belajar makan makanan yang padat. Belajar berbicara/berkatakata. Belajar mengontrol pembuangan kotoran tubuh. Belajar tentang perbedaan kelamin dan kesopanan / kelakuan yang sesuai dengan jenis kelaminnya. Mencapai stabilitas fisiologis / jasmaniah. Pembentukan konsep sederhana tentang kenyataan sosial dan kenyataan fisik. Belajar berhubungan diri secara emosional dengan orang tua saudara-saudaranya, dan orang lain. Belajar membedakan yang benar dan yang salah dan pengembangan kesadaran diri / kata hati.
2.      Tugas perkembangan Masa-masa Kanak-kanak (6-12 tahun): Belajar keterampilan fisik yang perlu untuk permainan sehari-hari. Pembentukan kesatuan sikap terhadap dirinya sebagai suatu organisme yang tumbuh. Belajar bermain dengan teman-teman mainnya. Belajar memahami peranan-peranan kepriaan atau kewanitaan. Pengembangan kemahiran dasar dalam membaca , menulis, dan berhitung. Pengembangn konsep-konsep yang perlu untuk kehidupan sehari-hari. Pengembangn kesadaran diri moralitas, dan suatu skala nilai-nilai. Penembangn kebebasan pribadi. Pengembangan sikap-sikap terhadap kelompok sosial dan lembaga.
3.      Tugas perkembangan masa Remaja / adoselen (12-18tahun) : Mencapai peranan sosial dan hubungan yang lebih matang sebagai laki-laki/perempuan serta kebebasan emosional dari orang tua. Memperoleh jaminan kebebasan ekonomi dengan memilih dan mempersiapkan diri untuk suatu pekerjaan. Mempersiapkan diri untuk berkeluarga. Mengembangkan kecakapan intelektual serta tingkah laku yang bertanggungjawab dalam masyarakat.
4.      Tugas perkembangan pada masa Dewasa (18…tahun) Masa dewasa awal: Memilih pasangan hidup dan belajar hidup bersama Memulai berkeluarga. Mulai menduduki suatu jabatan/pekerjaan. Masa dewasa tengah umur:Mencapai tanggung jawab social dan warga negara yang dewasa. Membantu anak belasan tahun menjadi dewasa Menghubungkan diri sendiri kepada suami/isteri sebagai suatu pribadi Menyesuaikan diri kepada orang tua yang semakin tua Tugas perkembangan usia lanjut : Menyesuaikan diri pada kekuatan dan kesehatan jasmani Menyesuaikan diri pada saat pensiun dan pendapatan yang semakin berkurang. Menyesuaikan diri terhadap kematian,terutama banyak beribadah.

Yelon dan Weinstein (1977) sepakat bahwa perkembangan individu berlangsung secara bertahap. Pernyataan ini didasarkan pada karya tokoh-tokoh sebelumnya yang menerangkan perkembangan jenis-jenis tingkah laku dalam kebudayaan Barat pada umur yang bervariasi, perkembangan tingkah laku tersebut diantaranya yaitu:
1.      Perkembangan jenis tingkah laku masa anak kecil (toddler) Perkembangan fisiknya sangat aktif terutama untuk belajar menggerakan anggota tubuhnya. Perkembangan bahasa pengucapan kalimat,serta belajar konsep-konsep dari benda yang dilihatnya. Mulai menyukai anak-anak lain, tetapi tidak bermain dengan mereka. Memberikan respon dan mulai tergantung pada orang tua.
2.      Perkembangan jenis tingkah laku masa Pra sekolah (Prescholler) Perkembangan otot yang mantap disertai koordinasi anggota tubuh. Bahasa yang berkembang dengan baik, ditandai dengan pemahaman terhadap pandangan orang lain. Mulai bisa mentaati aturan-aturan dan menghormati kekuasaan. Memusatkan diri pada perbedaan gender dan kecakapan masing-masing dengan menekspresikan semua perasaan.
3.      Perkembangan jenis tingkah laku masa Kanak-kanak (Childhood). Keterampilan anggota tubuh cukup baik dan turut serta dalam permainan-permainan kelompok. Menggunakan simbol/bahasa untuk memecahkan masalah. Mulai berorientasi pada kelompok yang mempengaruhi konsep dirinya. Banyak menggunakan waktu untuk membebaskan diri dari rumah.
4.      Perkembangan jenis tingkah laku masa Remaja awal (Early adolescense) Pertumbuhan tubuhnya cepat ditandai dengan kematangan seksual. Mulai dapat berpikir abstrak. Menyesuaikan diri pada norma-norma kelompok dan berteman dekat dengan sebaya dan sejenis. Mengusahakan untuk lebih bebas,dan emosional tidak stabil.
5.      Perkembangan jenis tingkah laku masa Remaja akhir (late Adolescense) Mencapai kematngan fisik. Egosentrisme hilang dan dapat berpikir abstrak. Berminat kepada lawan jenis dan mulai mengadakan hubungan pribadi. Identitas dirinya mapan dilingkungan masyarakat.

2.2 Implikasi Landasan Psikologi Dalam Pendidikan
Sebagaimana dikemukakan yelon dan weinstei (1977), implikasi perkembangan individu terhadap perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan dalam rangka membantu penyelesaian tugas-tugas perkembangannya adalah sebagai berikut :
Perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa kanak-kanak kecil :Menyelenggarakan disiplin secara lemah lembut secara konsisten. Menjaga keselamatan tanpa perlindungan yang berlebihan. Bercakap-cakap dan memberikan respon terhadap perkataan peserta didik. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk aktif dan bereksplorasi. Menghargai hal-hal yang dapat dikerjakan peserta didik.
1.      Perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa prasekolah : Memberikan tanggung jawab dan kebebasan kepada peserta didik secara berangsur-angsur dan terusmenerus. Latihan harus ditekankan pada koordinasi: kecepatan, mengarahkan keseimbangan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peserta didik. Menyediakan bendabenda untuk diekplorasi. Memberikan kesempatan untuk berinteraksi sosial dan kerja kelompok kecil. Menggunaka program aktif, seperti ; bernyanyi dengan bergerak, dll. Memperbanyak aktivitas berbahasa seterti bercerita, mengklasifikasikan, diskusi masalah, dan membuat aturan-aturan.
2.      Perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa kanak-kanak : Menerima kebutuhan-kebutuhan akan kebebasan anak ; dan menambah tanggung jawab anak. Mendorong pertemanan dengan menggunakan projek- projek dan permainan kelompok. Membangkitkan rasa ingin tahu. Secara konsisten mengupayakan disipilin yang tegas dan dapat dipahami. Menghadapkan anak pada gagasan-gagasan dan pandangan- pandangan baru. Bersamasama menciptakan aturan dan kejujuran. Memberikan contoh model hubungan social. Terbuka terhadap keritik.
3.      Perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa remaja awal : Memberikan kesempatan berolahraga secara tim dan perorangan, tetapi tidak mengutamakan tenaga fisik yang besar. Menerima makin dewasanya peserta didik. Memberikan tanggung jawab secara berangsurangsur. Mendorong kebebasan dan tanggung jawab.
4.      Perlakuan pendidik (orang dewasa) yang diharapkan bagi perkembangan peserta didik pada masa remaja akhir : Menghargai pandanganpandangan peserta didik. Menerima kematangan peserta didik. Memberikan kesempatan luas kepada peserta didik untuk berolahraga dan bekerja secara cermat. Memberikan kesempatan yang luas untuk pendidikan karir. Menggunakan kerjasama kelompok untuk memecahkan masalah. Berkreasi bersama dan bersamasama menegakan berbagai aturan.

Teori Belajar dan Implikasinya Terhadap Pendidikan. Teori belajar behaviorisme berasumsi bahwa hasil dari sebuah pembelajaran adalah perubahan tingkah laku yang dapat diobservasi dan dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dengan faktor penentunya adalah penguatan atau dorongan dari luar. Teori behaviorisme memiliki komponen yang terdiri dari rangsangan (stimulation), tanggapan (response), dan akibat (consequence). Tokoh teori ini adalah B.F.Skinner Implikasinya terhadap pendidikan adalah sebagai berikut :
Perlakuan terhadap individu didasarkan kepada tugas yang harus dilakukan sesuai dengan tingkat tahapan dan dalam pelaksanaannya harus ada ganjaran dan kedisiplinan. Motivasi belajar berasal dari luar (external) dan harus terus menerus dilakukan agar motivasi tetap terjaga. Metode belajar dijabarkan secara rinci untuk mengembangkan disiplin ilmu tertentu. Tujuan kurikuler berpusat pada pengetahuan dan keterampilan akademis serta tingkah laku social. Pengelolaan kelas berpusat pada guru dengan interaksi sosial sebagai sarana untuk mencapai tujuan tertentu dan bukan merupakan tujuan utama yang hendak dicapai. Untuk mengefektifkan belajar maka dilakukan dengan cara menyusun program secara rinci dan bertingkat sesuai serta mengutamakan penguasaan bahan atau keterampilan. Peserta didik cenderung pasif. Kegiatan peserta didik diarahkan pada pemahiran keterampilan melalui pembiasaan setahap demi setahap demi setahap secara rinci
Teori belajar kognitif berasumsi bahwa belajar adlah proses internal yang kompleks berupa pemrosesan informasi dikarenakan setiap individu memiliki kemampuan untuk memproses informasi sesuai faktor kognitif berdasarkan tahapan usianya sehingga hasil belajar adalah perubahan struktur kognitif yang ada pada individu tersebut. Tokoh teori ini adalah Jerome Bruner
Teori belajar humanisme berasumsi bahwa belajar adalah fungsi seluruh kepribadian suatu individu dikarenakan suatu individu merupakan pribadi utuh yang mempunyai kebebasan memilih untuk menentukan kehidupannya, juga memiliki keinginan untuk mengetahui sesuatu, juga memiliki keinginan untuk bereksplorasi dan mengasimilasi pengalamanpengalamannya.Tokoh teori ini adalah Carl Rogers

2.3  Peran Psikologi Pendidikan Dalam Proses Belajar-Mengajar
Dalam bukunya, Drs. Alex Subor, M,si. mendefinisikan bahwa Psikologi Pendidikan adalah subdisiplin psikologi yang mempelajari tingkah laku individu dalam situasi pendidikan, yang meliputi pula pengertian tentang proses belajar dan mengajar.
Secara garis besar, umumnya batasan pokok bahasan psikologi pendidikan dibatasi atas tiga macam:
  1. Mengenai belajar, yang meliputi teori-teori, prinsip-prinsip dan ciri khas perilaku belajar peserta didik dan sebagainya.
  2. Mengenai proses belajar, yakni tahapan perbuatan dan peristiwa yang terjadi dalam kegiatan belajar peserta didik dan sebagianya.
  3. Mengenai situasi belajar, yakni suasana dan keadaan lingkungan baik bersifat fisik maupun non fisik yang berhubungan dengan kegiatan belajar peserta didik.
Sementara menurut Samuel Smith, setidaknya ada 16 topik yang perlu dibahas dalam psikologi pendidikan, yaitu :
  1. Pengetahuan tentang psikologi pendidikan (The science of educational psychology)
  2. Hereditas atau karakteristik pembawaan sejak lahir (heredity)
  3. Lingkungan yang bersifat fisik (physical structure).
  4. Perkembangan siswa (growth).
  5. Proses-proses tingkah laku (behavior proses).
  6. Hakikat dan ruang lingkup belajar (nature and scope of learning).
  7. Faktor-faktor yang memperngaruhi belajar (factors that condition learning)
  8. Hukum-hukum dan teori-teori belajar (laws and theories of learning).
  9. Pengukuran, yakni prinsip-prinsip  dasar dan batasan-batasan pengukuran/ evaluasi. (measurement: basic principles and definitions).
  10. Tranfer belajar, meliputi mata pelajaran (transfer of learning subject matters)
  11. Sudut-sudut pandang praktis mengenai pengukuran (practical aspects of measurement).
  12. Ilmu statistic dasar (element of statistics).
  13. Kesehatan rohani (mental hygiene).
  14. Pendidikan membentuk watak (character education).
  15. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah menengah. (Psychology of secondary school subjects).
  16. Pengetahuan psikologi tentang mata pelajaran sekolah dasar (psychology of elementary school).
Dalam proses belajar-mengajar dapat dikatakan bahwa ini inti permasalahan psikiologis terletak pada anak didik. Bukan berarti mengabaikan persoalan psikologi seorang pendidik, namun dalam hal seseorang telah menjadi seorang pendidik maka ia telah melalui proses pendidikan dan kematangan psikologis sebagai suatu kebutuhan dalam mengajar. Penguasaan guru tentang psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, yakni kompetensi pedagogik. Muhibbin Syah (2003) mengatakan bahwa “diantara pengetahuan-pengetahuan yang perlu dikuasai guru dan calon guru adalah pengetahuan psikologi terapan yang erat kaitannya dengan proses belajar mengajar peserta didik”
Guru dalam menjalankan perannya sebagai pendidik bagi peserta didiknya, tentunya dituntut memahami tentang berbagai aspek perilaku dirinya maupun perilaku orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama perilaku peserta didik dengan segala aspeknya, sehingga dapat menjalankan tugas dan perannya secara efektif, yang pada gilirannya dapat memberikan kontribusi nyata bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.
Dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diharapkan dapat :
1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru akan dapat lebih tepat dalam menentukan bentuk perubahan perilaku yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom tentang taksonomi perilaku individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
2. Memilih strategi atau metode pembelajaran yang sesuai.
Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diharapkan guru dapat menentukan strategi atau metode pembelajaran yang tepat dan sesuai, dan mampu mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis belajar dan gaya belajar dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.
3. Memberikan bimbingan atau bahkan memberikan konseling.
Tugas dan peran guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diharapkan dapat membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diharapkan guru dapat memberikan bantuan psikologis secara tepat dan benar, melalui proses hubungan interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.
4. Memfasilitasi dan memotivasi belajar peserta didik.
Memfasilitasi artinya berusaha untuk mengembangkan segenap potensi yang dimiliki siswa, seperti bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi dapat diartikan berupaya memberikan dorongan kepada siswa untuk melakukan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, tampaknya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator belajar siswanya.
5. Menciptakan iklim belajar yang kondusif.
Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim belajar yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk dapat menciptakan iklim sosio-emosional yang kondusif di dalam kelas, sehingga siswa dapat belajar dengan nyaman dan menyenangkan.
6. Berinteraksi secara tepat dengan siswanya.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh empati dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.
7. Menilai hasil pembelajaran yang adil.
Pemahaman guru tentang psikologi pendidikan dapat mambantu guru dalam mengembangkan penilaian pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip penilaian maupun menentukan hasil-hasil penilaian.


BAB III
                                                             PENUTUP

3.1 Simpulan
Sebagi objek sasaran dalam proses belajar mengajar adalah anak didik sebagai manusia individu yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain, maka dalam proses belajar mengajar, seorang pendidik perlu memperhatikan faktor psikologi karena pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku yang diperolah melalui belajar mengajar, tidak dapat dipisahkan dari psikologi.
Guru sebagai pendidik/pengajar menjadi subjek yang mutlak harus memiliki pengetahuan psikologi sehingga proses belajar mengajar bisa berjalan dengan baik, setidaknya dalam meminimalisir kegagalan dalam menyampaikan mataeri pelajaran.
Landasan psikologis pendidikan merupakan salah satu landasan yang penting dalam pelaksanan pendidikan karena keberhasilan pendidik dalam menjalankan tugasna sangat dipengaruhi oleh pemahamannya tentang peserta didik. Oleh karena itu pendidik harus mengetahui apa yang harus dilakukan kepada peserta didik dalam setiap tahap perkembangan yang berbeda mulai dari banyi hingga dewasa.

3.2 Saran
Karena begitu pentingnya landasan psikologis dalam pendidikan maka seluruh calon pendidik dan para pendidik diharapkan mampu mempelajari serta mengaplikasikan landasan psikologis dalam pendidikan agar proses pendidikan berjalan dengan baik.



DAFTAR PUSTAKA

Hadikusumo, Kunaryo dkk. 1996. Pengantar Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press
Satmoko, R.S. 1989. DasarDasar Pendidikan. Semarang: IKIP Semarang Press
....................... 1999. Landasan Kependidikan (Pengantar ke arah Ilmu Pendidikan Pancasila).Semarang: IKIP Semarang Press
Tirtarahardja, Umar. 2005. Pengantar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar